Setelah sebelumnya kita unboxing HUAWEI MatePad Mini PaperMatte Edition, sekarang waktunya kita bahas lebih dalam. Ini tablet kecil berukuran 8,8 inci, tapi Huawei mencoba memasukkan banyak fitur produktivitas ke dalam bodi yang sangat tipis dan ringan.
Pertanyaannya: apakah MatePad Mini ini cuma menang di desain compact, atau memang bisa jadi tablet harian untuk kerja, belajar, meeting, baca dokumen, sampai bikin karya kreatif?
Folio Cover
Sekarang kita bahas Folio Cover. Aksesori ini penting karena MatePad Mini memang dibuat untuk mobilitas. Cover-nya bukan cuma pelindung, tapi juga bisa membantu posisi penggunaan.
Folio Cover untuk MatePad Mini menggunakan material vegan leather dengan desain seperti notebook. Ada sistem buckle yang bisa mengamankan perangkat dan juga menyediakan tempat penyimpanan stylus. Cover ini juga bisa dipakai sebagai stand, jadi lebih nyaman untuk membaca, meeting, menonton, atau mengetik ringan.
Fitur open-to-wake dan close-to-sleep juga membuat penggunaan terasa praktis. Buka cover, layar langsung aktif. Tutup cover, tablet masuk mode sleep. Kecil, tapi cukup berguna untuk penggunaan harian.
Pengalaman Menulis dengan HUAWEI M-Pencil Pro
Sekarang kita bahas M-Pencil. HUAWEI M-Pencil Pro ini bukan cuma stylus biasa. Huawei menyebut stylus ini mendukung lebih dari 10.000 level pressure sensitivity pada tablet tertentu, jadi tekanan tangan bisa memengaruhi ketebalan goresan. Ini penting untuk menggambar, menulis, dan membuat anotasi.
Fitur menarik lainnya adalah gesture. Kita bisa mencubit stylus untuk membuka radial menu, memutar stylus untuk menyesuaikan goresan di aplikasi tertentu, dan ada tombol pintas di bagian belakang pen untuk akses cepat ke aplikasi favorit atau Notes.
Ketika dipakai di layar PaperMatte, sensasinya lebih natural dibanding menulis di layar yang licin. Bukan benar-benar sama seperti kertas, tapi feel gesekannya lebih nyaman untuk menulis lama. Jadi untuk mahasiswa, pekerja, guru, content creator, atau orang yang sering meeting, kombinasi tablet kecil dan M-Pencil ini terasa praktis.
Kamera
Untuk kamera, tablet ini cukup menarik karena tidak banyak tablet mini yang serius di sektor kamera. Di belakang ada kamera utama 50 MP dengan bukaan f/1.8 dan kamera 8 MP dengan bukaan f/2.2. Kamera utamanya mendukung perekaman video hingga 4K dengan electronic image stabilisation.
Fungsi kamera belakang di tablet ini menurut saya paling relevan untuk scan dokumen, foto catatan, foto referensi, atau kebutuhan konten ringan. Sedangkan kamera depannya 32 MP, ini nilai plus untuk video call, online meeting, kelas virtual, atau presentasi jarak jauh.
Jadi kamera di sini bukan sekadar pelengkap. Untuk tablet compact, konfigurasi kamera seperti ini cukup kuat.

Audio, Mikrofon, dan Hiburan
Untuk audio, MatePad Mini punya dua speaker, dua mikrofon, dan dukungan HUAWEI Histen 9.5. Karena ukurannya compact, jangan berharap bass super besar seperti speaker eksternal. Tapi untuk nonton video, meeting online, kelas, podcast, atau musik ringan, setup ini sudah cukup.
Dua mikrofon juga membantu saat dipakai untuk panggilan video atau meeting, terutama kalau kamu sering pakai tablet ini sebagai perangkat kerja mobile.
Baterai dan Charging
Baterainya berkapasitas 6.400 mAh. Untuk tablet setipis dan seringan ini, kapasitas tersebut cukup menarik. Penggunaan aktual tentu tergantung aktivitas: membaca, menulis, streaming, meeting, atau menggambar pasti punya konsumsi daya berbeda.
Yang menarik, tablet ini sudah mendukung HUAWEI SuperCharge 66W. Jadi kalau baterai mulai turun, proses charging bisa lebih cepat dibanding tablet dengan charger standar. Di dalam box juga sudah tersedia charger 66W, jadi tidak perlu beli kepala charger tambahan.
Performa dan Chipset
Untuk performa, unit Indonesia secara resmi mencantumkan RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB. Ini sudah cukup besar untuk penggunaan harian seperti multitasking, membuka dokumen, browsing, meeting, menulis catatan, dan menggambar.
Untuk chipset, halaman Huawei Indonesia tidak menuliskan nama prosesornya secara eksplisit. Namun pada halaman resmi Huawei di beberapa negara, MatePad Mini tercatat menggunakan Kirin 9010B Hexa-core. Jadi di bagian ini, saya akan lebih hati-hati: performanya sebaiknya dinilai dari pengalaman penggunaan langsung.
Dalam penggunaan harian, fokus tablet ini bukan sebagai mesin gaming berat, tapi sebagai perangkat produktivitas compact. Jadi pengujian yang paling relevan adalah membuka WPS Office, multitasking, menulis dengan stylus, menggambar di GoPaint, video call, dan konsumsi media.
Konektivitas dan Ekosistem
Untuk konektivitas, MatePad Mini mendukung Wi-Fi 2,4 GHz dan 5 GHz, Bluetooth 5.2, NearLink, OTG, USB Type-C, GPS, GLONASS, BeiDou, Galileo, dan QZSS. NearLink juga penting untuk koneksi aksesori seperti stylus agar lebih stabil dan responsif.
Namun, satu hal yang perlu dicek sebelum membeli adalah kebutuhan aplikasi. Karena ini perangkat Huawei, kamu harus memastikan aplikasi yang kamu pakai sehari-hari tersedia atau bisa berjalan nyaman di ekosistem Huawei. Kalau workflow kamu sangat bergantung pada layanan Google tertentu, coba cek dulu sebelum memutuskan.
Desain dan Portabilitas
Pertama dari desain. HUAWEI MatePad Mini PaperMatte Edition punya ketebalan sekitar 5,2 mm dan bobot sekitar 260 gram. Ini membuatnya terasa sangat ringan saat dipegang. Kalau tablet besar biasanya lebih nyaman dipakai di meja, tablet ini masih enak dipakai sambil berdiri, duduk santai, atau dibawa pindah-pindah.
Ukuran 8,8 inci menurut saya jadi titik tengah yang menarik. Layarnya jauh lebih lega dibanding HP, tapi bodinya belum sebesar tablet 11 atau 12 inci. Jadi untuk orang yang sering kerja mobile, meeting di luar, kuliah, atau suka baca dokumen di perjalanan, ukuran ini terasa masuk akal.
Secara tampilan, desainnya juga premium. Bagian belakangnya punya kesan modern, modul kameranya terlihat rapi, dan secara keseluruhan ini bukan tablet yang terlihat murah.
Layar Flexible OLED PaperMatte Display
Bagian paling penting dari tablet ini jelas ada di layarnya. MatePad Mini menggunakan layar 8,8 inci Flexible OLED HUAWEI FullView Display dengan resolusi 2560 × 1600, Layar OLED dengan refresh 120 Hz, kerapatan 343 PPI, rasio layar-ke-bodi 92 persen, dan brightness hingga 1.800 nits.
Secara visual, layar OLED membuat warna terlihat hidup, kontras tinggi, dan detailnya tajam. Tapi yang membedakan versi PaperMatte adalah lapisan layarnya. PaperMatte ini dirancang untuk mengurangi pantulan cahaya dan silau, jadi lebih nyaman saat dipakai membaca, mencatat, atau membuka PDF dalam waktu lama.
Kalau layar glossy biasa sering memantulkan lampu atau bayangan wajah, layar PaperMatte terasa lebih kalem. Buat saya, ini cocok untuk orang yang sering baca e-book, jurnal, dokumen kerja, atau materi kuliah.
HUAWEI Notes dengan Fitur AI
Untuk mencatat, HUAWEI Notes jadi salah satu fitur yang wajib dicoba. Ada AI Handwriting Enhancement yang bisa membantu merapikan tulisan tangan. Jadi kalau tulisan kamu agak berantakan saat meeting atau kelas, catatan bisa dibuat lebih bersih dan lebih siap dibagikan.
Ada juga AI Equation Recognition and Calculation. Fitur ini bisa mengenali coretan persamaan atau angka, lalu membantu mengubahnya ke bentuk digital atau menghitungnya. Ini sangat berguna untuk pelajar, mahasiswa, guru matematika, dosen, atau pengguna yang sering bekerja dengan rumus.
Menurut saya, fitur AI di sini bukan sekadar tempelan. Use case-nya jelas: mencatat cepat, merapikan tulisan, menandai dokumen, dan mengubah catatan manual menjadi lebih mudah dibaca.
WPS Office 3.0 untuk Produktivitas
Untuk kerja dokumen, MatePad Mini juga membawa WPS Office 3.0. Ini penting karena ukuran tablet yang compact akan lebih berguna kalau tetap bisa dipakai untuk pekerjaan serius.
Dengan WPS Office, kita bisa membuka dokumen, membaca dan menandai PDF, menandatangani dokumen, membuka file spreadsheet, sampai mengecek presentasi. Jadi kalau kamu sering menerima file Word, Excel, PDF, atau PPT, tablet ini bisa jadi perangkat kerja ringan yang praktis.
Tapi perlu dicatat, ini bukan pengganti laptop sepenuhnya untuk semua orang. Kalau pekerjaan kamu berat, banyak multitasking kompleks, atau butuh software desktop khusus, laptop tetap lebih aman. Tapi untuk review dokumen, tanda tangan PDF, baca materi, catatan meeting, dan edit ringan, MatePad Mini ini nyaman.
GoPaint untuk Kreativitas
Buat yang suka gambar, Huawei menyediakan GoPaint. Aplikasi ini punya banyak pilihan brush, tekstur realistis, preset brush, custom brush, dan fitur kreatif seperti Intelligent Color Card dan Animation.
GoPaint juga mendukung fitur animasi yang bisa diekspor ke format seperti MP4, GIF, atau image sequence. Jadi bukan cuma untuk sketsa diam, tapi juga bisa untuk storyboard, ilustrasi bergerak, atau konten kreatif sederhana.
Dengan layar PaperMatte dan M-Pencil, pengalaman menggambarnya terasa lebih serius. Ukurannya memang kecil, jadi untuk ilustrasi profesional yang butuh kanvas besar mungkin masih lebih nyaman di tablet besar. Tapi untuk sketching, moodboard, ide cepat, dan latihan gambar, ukuran mini ini justru enak karena gampang dibawa.
Perbedaan iPadOS, Android, dan HarmonyOS HUAWEI
Sekarang kita bahas bagian yang cukup penting sebelum membeli tablet Huawei, yaitu sistem operasinya.
Kalau bicara tablet, biasanya ada tiga ekosistem besar yang sering dibandingkan: iPadOS dari Apple, Android dari berbagai brand seperti Samsung, Xiaomi, OPPO, dan lainnya, lalu HarmonyOS dari Huawei.
Kenapa ini penting? Karena sistem operasi bukan cuma menentukan tampilan menu. OS juga menentukan cara kita mengunduh aplikasi, cara perangkat terhubung dengan gadget lain, fitur produktivitas, keamanan, dan kenyamanan penggunaan sehari-hari.
Pertama, iPadOS. Ini adalah sistem operasi khusus untuk iPad. Kelebihan utamanya ada di ekosistem Apple yang sangat rapi. Kalau kamu sudah pakai iPhone, MacBook, AirPods, atau Apple Watch, iPad akan terasa sangat menyatu.
Kedua, Android. Android adalah sistem operasi yang paling luas dipakai di banyak brand. Kelebihannya adalah fleksibilitas. Pilihan perangkatnya banyak, dari tablet entry-level sampai flagship. Pengguna juga punya akses ke Google Play Store untuk mencari dan mengunduh aplikasi, game, dan konten digital.
Android juga biasanya lebih terbuka untuk personalisasi. Kita bisa lebih bebas mengatur tampilan, file, aplikasi, keyboard, launcher, dan integrasi dengan layanan Google seperti Gmail, YouTube, Google Drive, Google Docs, Google Meet, dan Google Photos.
Nah, yang ketiga adalah HarmonyOS dari Huawei. Perbedaan paling besar dari OS Huawei adalah ekosistem aplikasinya. Di perangkat Huawei modern, pusat aplikasinya adalah HUAWEI AppGallery, bukan Google Play Store. AppGallery adalah toko aplikasi resmi Huawei, dan Huawei menyebutnya sebagai platform distribusi aplikasi resmi untuk perangkat Huawei.
Artinya, ketika kita mau download aplikasi, jalur utamanya adalah AppGallery. Untuk aplikasi tertentu, beberapa bisa tersedia langsung. Beberapa aplikasi lain mungkin perlu dibuka lewat browser, web app, atau metode alternatif yang disediakan ekosistem Huawei.
Mungkin kamu pernah lihat video yang bilang Huawei sekarang bisa masuk Google Play Store, itu karena perangkatnya terbaca seolah-olah seperti Samsung atau perangkat Android lain. Nah, bagian ini harus dijelaskan dengan jujur, karena ini bukan pengalaman Google Play Store native/resmi seperti di Samsung, Xiaomi, OPPO, atau tablet Android resmi lainnya.
Biasanya, cara seperti ini menggunakan aplikasi pihak ketiga seperti GBox atau GSpace. Aplikasi ini membuat semacam ruang virtual atau container, lalu beberapa aplikasi Google dijalankan dari dalam ruang tersebut. Dalam proses itu, perangkat Huawei bisa saja terlihat seperti perangkat Android lain di dalam sistem virtual tersebut.
Buat saya, ini adalah masalah besar. Karena kalau sebuah tablet premium masih harus bergantung pada trik pihak ketiga hanya untuk menjalankan aplikasi Google, berarti pengalaman OS-nya belum sepenuhnya matang untuk semua pengguna.
Dan ada satu hal yang menurut saya jauh lebih serius: soal keamanan akun.
Kalau akses Google di Huawei dilakukan lewat aplikasi pihak ketiga seperti GBox, GSpace, atau container sejenis, pengguna perlu sadar bahwa ini bukan jalur resmi Google Play native/resmi. Di situ ada pihak ketiga yang menjadi perantara pengalaman aplikasi Google.
Buat saya, ini bukan sekadar masalah aplikasi bisa dibuka atau tidak. Ini menyangkut akun pribadi. Apalagi kalau email Google yang kamu pakai terhubung dengan hal penting seperti mobile banking, e-wallet, akun marketplace, akun kerja, cloud storage, dokumen pribadi, kontak, foto, atau data pembayaran.”
Jadi kalau ada pihak ketiga yang menjadi jembatan untuk menjalankan aplikasi Google, pertanyaannya bukan hanya ‘bisa jalan atau tidak?’, tapi juga ‘seberapa aman akun saya?
Bagi saya, ini adalah titik kritik paling keras untuk pengalaman Huawei. Tablet harga premium seharusnya memberi pengalaman software yang jelas, resmi, dan aman. “Kalau tetap ingin mencoba workaround seperti GBox atau GSpace, saran paling aman adalah jangan gunakan email utama yang terhubung dengan rekening bank, e-wallet, pekerjaan penting, marketplace, atau data pribadi sensitif. Gunakan akun Google cadangan aja
Jadi kesimpulannya, HarmonyOS punya kelebihan, tapi juga punya kekurangan yang cukup serius. Kelebihannya ada di desain sistem yang rapi, integrasi perangkat Huawei, produktivitas dengan M-Pencil, HUAWEI Notes, WPS Office, dan GoPaint. Tapi kekurangannya ada di ekosistem aplikasi, terutama untuk pengguna yang membutuhkan Google Play Store dan Google Services secara penuh.
Jangan ketinggalan berita terkini dan konten menarik dari Serba ID !
Dukung Kami:
